JAKARTA - Upaya percepatan pengelolaan sampah menjadi energi di Indonesia memasuki fase penting setelah puluhan perusahaan teknologi dinyatakan lolos seleksi awal.
Proses ini tidak hanya menentukan mitra strategis proyek pembangkit listrik tenaga sampah, tetapi juga memperlihatkan besarnya minat pelaku industri global terhadap transformasi energi berbasis limbah di Tanah Air.
Dari total peserta yang terpilih, sejumlah perusahaan teknologi lingkungan asal China ikut ambil bagian dalam tender proyek waste to energy yang dikelola oleh Danantara Indonesia.
Kehadiran mereka menegaskan posisi negara tersebut sebagai salah satu eksportir utama teknologi energi hijau sekaligus membuka peluang transfer teknologi bagi industri domestik.
Tahap Krusial Tender Pengolahan Sampah Menjadi Energi
Sebanyak 24 perusahaan telah terpilih sebagai peserta tender dalam proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy. Tahap pertama proyek difokuskan pada empat kota yang dinilai paling siap secara administratif serta memiliki volume sampah mendesak untuk ditangani, yakni Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta.
Proyek ini kini memasuki tahap krusial dengan rencana pengumuman pemenang tender pada akhir Februari 2026. Dalam proses seleksi, Danantara Indonesia melakukan peninjauan menyeluruh terhadap ratusan calon penyedia teknologi.
Dari lebih dari 200 perusahaan yang masuk Daftar Penyedia Teknologi, sebanyak 24 perusahaan dari berbagai negara dinyatakan lolos dan berhak mengikuti tender sebagai Badan Usaha Pengembang dan Pengelola PSEL.
“Perusahaan-perusahaan yang menjadi peserta tender WtE kami wajibkan untuk membentuk konsorsium dengan mitra lokal. Adanya konsorsium ini kami harapkan bisa memberikan transfer teknologi dengan perusahaan lokal atau pemda,” ujar Fadli Rahman.
Fadli juga memastikan bahwa waste to energy bukan hanya sekadar proyek teknologi, melainkan bagian dari kebijakan publik lintas sektor. “Kami juga ingin memastikan bahwa terjadinya tata kelola yang kuat sejak hulu, termasuk proses pemilihan Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP) PSEL yang transparan dan berbasis mitigasi risiko,” ujarnya.
Dominasi Teknologi Lingkungan Dari Perusahaan Asal China
Dari 24 perusahaan yang lolos seleksi, lima di antaranya berasal dari China dan memiliki rekam jejak panjang dalam pengembangan fasilitas waste to energy. Berikut profil singkat masing-masing perusahaan:
1. Chongqing Sanfeng Environment Group Co., Ltd.
Perusahaan ini dikenal sebagai spesialis waste to energy dengan pengalaman sebagai investor, pengembang, sekaligus operator fasilitas pembangkit listrik tenaga sampah. Berdiri pada 2009 dan berkantor pusat di Chongqing, Sanfeng telah tercatat di Bursa Saham Shanghai dengan kode 601827.SH.
Teknologi grate incinerator berlisensi dari Martin GmbH kemudian dikembangkan hingga mampu memproduksi peralatan inti secara mandiri. Hingga akhir 2023, teknologinya digunakan di lebih dari 250 proyek dengan kapasitas total lebih dari 220.000 ton sampah per hari, serta lebih dari 50 proyek berbasis skema BOT dan PPP.
2. Wangneng Environment Co., Ltd.
Berkantor pusat di Huzhou, Zhejiang, perusahaan yang beroperasi sejak 2012 ini bergerak pada pengolahan limbah dapur, air limbah, lumpur, hingga daur ulang karet. Wangneng memiliki 98 anak perusahaan termasuk di Thailand, Kamboja, Australia, dan Singapura.
Dalam sektor WtE, perusahaan mengubah limbah padat menjadi listrik atau panas melalui pembakaran, gasifikasi, maupun bioteknologi. Proyek-proyeknya diklaim mampu menghasilkan 3,04 miliar kWh listrik bersih per tahun, setara kebutuhan sekitar 2,53 juta rumah tangga.
3. Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd.
Perusahaan ini telah memiliki keterlibatan sebelumnya di Indonesia sebagai pemasok teknologi insinerator melalui anak usaha Weiming Equipment. Bisnisnya mencakup desain, investasi, pembangunan, hingga operasi fasilitas WtE serta manufaktur peralatan pembangkit dari limbah.
Pada 2023, total produksi listriknya mencapai sekitar 3,85 miliar kWh yang mayoritas berasal dari pembangkit WtE. Weiming juga pernah menawarkan investasi ratusan juta dolar AS untuk proyek pengelolaan sampah di Bali.
4. SUS Indonesia Holding Limited
Meski menggunakan nama Indonesia, perusahaan ini merupakan bagian dari Shanghai SUS Environment Co., Ltd. yang berdiri pada 2008. Hingga kini terdapat puluhan proyek WtE yang telah dijalankan di berbagai negara. Di Makassar, perusahaan membangun fasilitas pengolahan sampah berkapasitas 1.300 ton per hari dengan dua jalur insinerasi dan generator listrik berdaya 35 megawatt.
5. PT Jinjiang Environment Indonesia
Berdiri pada 2017 dan merupakan bagian dari Zheneng Jinjiang Environment Holding Co., Ltd., perusahaan ini telah mengembangkan fasilitas PLTSa di Palembang berkapasitas 1.000 ton sampah per hari dengan output listrik 20 megawatt.
Proyek tersebut menggunakan skema Build Own Operate selama 30 tahun dengan investasi awal sekitar US$120 juta. Induk usahanya sendiri mengelola puluhan fasilitas WtE di China dengan kapasitas pengolahan puluhan ribu ton limbah per hari.
Transfer Teknologi Dan Tata Kelola Jadi Fokus Utama
Keterlibatan perusahaan internasional dalam proyek ini tidak hanya bertujuan menghadirkan investasi, tetapi juga memastikan alih teknologi kepada mitra lokal. Skema konsorsium diwajibkan agar kemampuan pengelolaan sampah nasional dapat meningkat secara berkelanjutan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi impor di masa depan.
Selain itu, pemerintah menekankan pentingnya tata kelola transparan dan mitigasi risiko sejak tahap awal proyek. Pendekatan ini diharapkan mampu menjamin keberlanjutan operasional fasilitas waste to energy serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, baik dalam bentuk pengurangan volume sampah maupun penyediaan energi listrik.
Percepatan Proyek Energi Berbasis Limbah Di Indonesia
Masuknya proyek waste to energy ke fase tender menunjukkan komitmen kuat Indonesia dalam mempercepat transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan. Pengolahan sampah menjadi listrik dipandang sebagai solusi ganda: mengatasi krisis sampah perkotaan sekaligus menambah pasokan energi.
Jika proses tender berjalan sesuai rencana, proyek tahap awal di empat kota akan menjadi model pengembangan fasilitas serupa di wilayah lain. Kolaborasi antara pemerintah, perusahaan global, dan mitra lokal diharapkan mampu menciptakan ekosistem pengelolaan sampah modern yang efisien serta berkelanjutan dalam jangka panjang.
Keberhasilan tahap ini juga akan menentukan arah investasi energi hijau berikutnya di Indonesia. Dengan dukungan teknologi mutakhir dan tata kelola yang kuat, waste to energy berpotensi menjadi salah satu pilar penting dalam transformasi sistem energi nasional sekaligus solusi konkret bagi persoalan lingkungan perkotaan.